02
Jan
12

Kekasihku Seorang Office Girl

            Radit Kusumadinata adalah seorang pengusaha muda sukses yang  berkarier di bidang penjualan sepatu. Dia memiliki beberapa perusahaan yang cukup maju dan terkenal. Radit berumur 28 tahun dan memiliki seorang kekasih bernama Sonia. Awal perjumpaan mereka ketika Sonia sedang melihat-lihat sepatu di toko sepatu milik Radit yang ada di salah satu pusat pembelanjaan. Perkenalan yang cukup singkat namun telah membuat perasaan diantara mereka bergejolak. Tak lama beberapa bulan mereka pun telah resmi menjadi sepasang kekasih. Tapi ternyata Sonia sama halnya dengan wanita metropolitan lainnya. Sonia selalu memanfaatkan kekuasaan Radit. Namun Radit seakan tidak menyadari dan bersikap biasa saja.

            “Halo sayang, kamu bisa tidak datang ke mall yang biasa kita ketemuan? Aku mau kamu belikan aku kalung berlian yang ada disini. Bisa kesini tidak? Kalau kamu tidak bisa datang, uangnya ditransfer saja ke rekening aku.”

            “Kemarin bukannya kamu baru saja membeli permata. Kenapa ingin membeli lagi?”

            “Tapi kalung in sungguh indah. Kata penjualnya, kalung ini hanya satu. Limited edition sayang.”

“Untuk sekarang aku tidak bisa melakukannya. Aku sebentar lagi akan memimpin rapat penting.”

            “Oh, begitu yah? Sekarang kamu lebih mementingkan rapat daripada pacar sendiri. Oke kalau memang itu mau kamu. Mulai detik ini kita putus!”

            Setelah mengatakan itu, Sonia langsung memutuskan percakapannya dengan Radit. Dan itu membuat Radit cemas. Tanpa pikir panjang Radit langsung keluar dari perusahaannya dan tidak memikirkan rapat pentingnya. Dia segera mengendarai sedan lancernya dengan kecepatan tinggi untuk menyusul Sonia. Namun untung tak dapat diraih rugi tak dapat dihindarkan. Kecelakaan yang cukup hebat pun terjadi. Sebuah truk tronton melaju dengan kecepatan tinggi. Untuk menghindari dari kejadian tersebut, Radit membanting setir ke arah kiri dan menabrak sebuah pohon besar dengan cukup kuat.

            Radit segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Karena Radit banyak mengeluarkan darah, dia langsung dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Setelah beberapa menit dokter memeriksa keadaan Radit, dia mengatakan bahwa Radit membutuhkan donoran darah AB. Kebetulan persediaan darah AB di rumah sakit itu pun sudah habis. Mengetahui keadaan darurat ini, dokter yang menangani Radit langsung memberitahukan suster di bagian recepcionist untuk mengumumkan siapapun yang bersukarelawan ingin mendonorkan darah mereka yang bergolongan AB. Namun setelah beberapa menit, tidak ada seorangpun yang menyerahkan diri untuk diambil darahnya. Kondisi Radit semakin kritis.

Sementara itu di dapur rumah sakit.

            “Wah kasian sekali pasien itu, pasti dia mengalami pendarahan yang sangat hebat.”

            “Aku ingin membantu pasien itu.” tegas Ciara.

            Mendengar ucapan Ciara yang begitu mendadak. Nita tersendak ketika menelan makanannya. Melihat Nita terbatuk-batuk, Ciara segera mengambilkan secangkir air putih untuk Nita.

            “Kamu serius, Ra? Memangnya golongan darah kamu AB?”

            “Aku juga kurang tahu, tapi karena ibuku memiliki golongan darah AB, mungkin saja aku juga bergolongan AB. Kalau memang benar darahku AB, aku akan mendonorkan darahku kepada pasien itu.”

            Tanpa  menunggu ucapan Nita, Ciara langsung berlari ke bagian receptionist.

            “Vera, aku bersedia mendonorkan darahku ke pasien tadi.” teriak Ciara kepada temannya yang bekerja di bagian receptionist.

            Namun bukannya segera membawa Ciara ke ruang pemeriksaan, Vera hanya melonggo seakan tak percaya.

            “Veraa! Kamu kenapa diam saja?”

            “Ka…ka…kamu… ya…ya…yakin…?”

            “Kalau tidak yakin aku tidak mungkin datang kesini. Ayo cepat!” (menarik tangan Vera dan membawanya ke ruang pemeriksaan).

            Tak lama diperiksa, ternyata memang benar golongan darah Ciara adalah AB.

            “Terima kasih Ra kamu sudah mau mendonorkan darah kamu, kami sudah putus asa tadi, tapi untung saja kamu datang.”

            “Sama-sama Ver, aku ikhlas kok. Lagian bukannya sesama manusia memang harus saling membantu.”

            “Kamu benar-benar baik hati.”

            “Yah…selagi aku bisa membantu kenapa tidak?”

            Mereka saling tersenyum dan Vera segera mengantarkan darah itu kepada dokter yang memeriksa Radit. Sementara Ciara belum diperbolehkan untuk bekerja kembali. Dia masih harus beristirahat beberapa jam.

            Empat jam berlalu, akhirnya operasi telah selesai. Kondisi Radit sudah tidak kritis lagi namun ia masih belum sadarkan diri. Di saat yang sama, Ciara terbangun dari tidurnya. Ia merasa bahwa ada dorongan dari dalam dirinya yang mengharuskan dia untuk menjenguk pasien tadi. Sampai di kamar Radit, Ciara melihat ada seorang wanita cantik sedang berdiri di samping Radit. Ciara mendengar gadis itu berbicara cukup kasar.

            “Heh! Untung saja aku minta putus sama kamu. Masa aku punya kekasih yang tidak berguna seperti kamu sekarang.”

            Setelah mengucapkan itu, dia keluar dan Ciara buru-buru pergi dari pintu agar tidak dicurigai oleh gadis itu. Sepeninggal gadis itu Ciara pun masuk dan tak beberapa menit seorang suster masuk untuk melihat keadaan Radit.

            “Kamu kenapa disini? Kamu bukannya yang mendonorkan darah untuk pasien ini? Seharusnya kamu beristirahat saja. Jangan malah keluyuran.”

            “Aku sudah tidak apa-apa kok sus. Aku mau menjenguk dia. Kalau boleh aku tahu, nama dia siapa sus? Dan apa keluarganya tidak menjenguknya?”

            “Namanya Radit. Kelurganya semua tidak disini, tapi diluar negeri. Jadi pihak rumah sakit yang akan merawatnya sampai dia sembuh dan sesekali karyawannya akan bergantian menjaganya.”

            “Ehm…apa boleh aku saja yang merawatnya? Aku tidak akan direpotkan kok. Aku ikhlas menjaga dan merawatnya.”

            “Tapi disini sudah ada suster yang akan merawatnya. Kamu tidak usah repot-repot. Lagian kamu masih harus banyak beristirahat.”

            “Tidak apa sus, aku benar-benar ikhlas membantunya. Aku juga tidak akan melupakan kondisi badanku kok sus. Suster tenang saja.” ucap Ciara meyakinkan.

            “Benarkah?” tanya suster seakan tak yakin.

            (angguk Ciara semangat)

            “Kamu sungguh baik hati. Beruntung sekali pasien ini bisa bertemu denganmu. Baiklah, kamu boleh merawatnya.”

            Mendengar perkataan suster tersebut, Ciara sungguh senang sekali. Entah mengapa dihatinya tumbuh rasa sayang. Mulai saat itu dia sangat semangat untuk merawat Radit. Bulan demi bulan pun berlalu. Dan suatu hari Radit memberikan respon yang sangat baik. Akhirnya dia siuman dari koma panjangnya. Ciara segera memberitahukan kabar baik ini kepada dokter. Setelah dokter memeriksa Radit, Radit bertanya kepada dokter tentang keberadaan Ciara. Dokter mengatakan semua tentang Ciara kepada Radit. Ciara selalu melakukan berbagai cara untuk membangunkan Radit. Dan hati Radit benar-benar tersentuh dan dia ingin lebih mengenal Ciara.

            Hari demi hari telah dilewati. Hubungan Ciara dan Radit semakin dekat. Sepertinya diantara mereka berdua mulai timbul perasaan saling suka. Radit pun akhirnya sembuh total dan sudah bisa berjalan. Radit telah melupakan Sonia dan dia merasa kalau Ciara lah yang terbaik untuknya. Dia pun mencari waktu yang pas untuk menyatakan cintanya kepada Ciara.

            “Ciara, selama ini kamu sangat baik kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana membalas semuanya. Aku sangat berterima kasih kepadamu karena sudah mau merawatku selama aku sakit. Aku berjanji akan membalas semua ini. Aku juga merasa kalau kamu benar-benar orang yang tepat. Satu hal yang ingin aku katakan.”

            “Hah? Tepat apanya? Katakan apa?”

            “Ehmm…apakah kamu mau menjadi kekasihku?”

            Sontak Ciara kaget dan bingung bagaimana menjawabnya.

            “Ehmm…kenapa kamu memilih aku untuk menjadi kekasihmu?”

            “Karena…karena aku sangat mencintaimu dan tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.”

            “Ehm…maafin aku Dit. Sepertinya aku tidak bisa.”

            “Ooo…yah, kalau memang tidak bisa yah tidak apa-apa kok. Kita masih bisa berteman bukan?”

            Raut muka Radit tampak kecewa dan lesu. Namun tak disangka Ciara mengejutkan Radit dengan perkataan selanjutnya.

            “Maksud aku, aku tidak bisa menolak kamu.”

            Ekspresi Radit langsung berubah menjadi cerah dan tampak sangat bahagia. Dia pun mendadak memeluk lembut Ciara dan berterima kasih padanya.    

            Hari demi hari mereka lewati bersama. Suka duka mereka  jalani bersama-sama. Dan sekian lama berpacaran, mereka akhirnya melangkah ke jenjang yang lebih jauh. Dan mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri.

                                                                 THE END

 

Created by : Santi Febrianti ( @xhanz_tee ) 

 


0 Responses to “Kekasihku Seorang Office Girl”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: